Lalu kita dipertemukan, untuk menyambut perpisahan.
Lalu kita saling menampakan, untuk berjumpa
persembunyian.
Lalu kita saling tertawa, untuk sekedar menanti rasa
kecewa
Lalu kita saling menatap waktu, berangan-angan
selamanya menjadi satu
Aku mencoba membangun jembatan
yang menyatukan dua jurang menjadi satu ruang. “Ya” ucapku, saat tatapan tulus itu menghendaki bibirmu mengucap
sepatah kata mewakili rasa yang kau anggap itu cinta. Aku sadar bibirku menjadi
kelu karena tidak sejalannya ruh dan kalbu. Aku berani menembus batas dan
menjadi bablas pada rasa yang sesederhana bias. Aku mengaku salah walaupun
sadar Tuhan takkan mengalah.
Cinta beda agama, begitu mereka menyebutnya. Ini adalah kemenangan hati
yang sembunyi-sembunyi menusuk logika yang tidak siaga. Ini adalah kemenangan
hati yang membakar telinga untuk sumpah serapah semoga kami berpisah. “Pria berkharisma ini membunuhku dengan cara
yang menghangatkan sukma” ujar batinku. Aku merangkul tangannya seolah
mengajak ke neraka bersama, padahal harapku ia menjadi manusia berharga yang
membukakan pintu surga. Aku terlalu
banyak memungkiri, untuk takdir yang telah terpatri.
Aku mencoba mengulur jalur,
berharap Tuhan mengubah alur. Aku menabung banyak pertanyaan, untuk mendapat
banyak jawaban. Lalu, mengapa rasa ini bisa bersatu? Pertanyaan satu, kuharap Tuhan menjawabnya suatu waktu. Kami
berjalan pada altar kebersamaan setelah berhasil mengabaikan perbedaan. Kami
berjalan dengan rintihan, berharap tak jumpa dengan perpisahaan. Ini terlalu berbahaya, takdir ini
menganiaya.
Saat kutatap mata coklat itu,
aku lupa dengan semua beda. Dia adalah diksi penyempurna untuk bait-bait cerita
hidup. Dia adalah warna penyempurna untuk goresan-goresan garis hidup. Aku tak ingin menerimanya sebagai masalalu,
jika kelak masa depan bertanya. Kita adalah seni pertarungan iman. Dalam
benaknya, aku yakin ia berdoa agar aku mengakui Tuhannya, sebagaimana nuraniku
mencoba menuturkan ego yang sama. Apakah ada yang mengalah? Itu sebuah masalah.
Kita semakin dicaci maki seolah
mempermainkan Tuhan oleh keramaian. Hingga kita lupa, bahwa kita memang sedang
diatap jurang yang belum satu ruang.
Kita terlalu liar. Kita terlalu banyak berpura-pura dibalik sebuah
rasa yang mematikan nalar. Terlebih, kita terlalu berani menyelam pada
angan-angan dan berharap kita tak pernah sadar. Aku tak ingin kisah ini menjadi
pudar. Sewaktu-waktu ingin aku gumamkan pada Tuhan mengenai pilihan ini dengan
panjang lebar, sebelum ia mengutus seseorang agar kami bubar. Kini aku tetaplah
tertidur pada ego yang besar, yang selalu membuat pembenaran pada nurani yang
menjadi pilar.
Aku tak ingin berhala pada
sebuah cinta. Aku mencoba membangunkan diri yang sedang buta. Lalu, aku
menangis dan memulai banyak pinta. “Bolehkah,
sekali lagi aku menjadi seseorang yang sempat membuatnya tertawa oleh sekedar
kata? Menjadi seseorang yang sempat membuatnya menangis oleh sekedar langkah
kaki yang menjauh dari pandangan mata?” Aku pikir aku kalah tanding pada
arena yang tak memiliki peta. Aku harap,
jika kisah ini berpenghujung, kita tetap mengakhirinya dengan bahagia yang
hinggap ke relung-relung.
Picture: Google